Suatu hari, saya sedang membersihkan rumah. Tiba-tiba anak lelaki saya datang, waktu itu dia masih kecil, dia menjatuhkan satu hiasan yang dibuat dari kaca, dan pecah.

Saya benar-benar marah ketika itu. Kerana hiasan itu amat mahal harganya. Ibu saya telah menghadiahkannya dan saya amat menyayanginya, maka saya menjaganya dengan amat baik…

Kerana terlalu marah, saya melontarkan kata-kata: “semoga kamu tertimpa dinding bangunan dan tulang-belulangmu hancur!”

kemarahan-01.jpg

Beberapa tahun berlalu, saya lupa akan doa itu, saya pun tak menganggapnya penting, dan saya tidak tau bahawa ternyata doa itu telah naik ke atas langit…

Anak lelakiku dan Anak-anakku yang lain semakin membesar. Rasanya, dialah yang paling saya cintai dari anak2ku yang lain. Dialah yang paling saya risaukan. Dia pula yang paling berbakti kepadaku dibandingkan Anak-anakku nya yang lain. Dia telah tamat belajar, bekerja, dan sudah masanya untuk saya mencarikannya pasangan…

Ayahnya memiliki sebuah gedung lama yang hendak diubahsuai.

Maka pergilah anakku bersama ayahnya ke gedung itu. Para pekerja sudah siap-siap untuk mengubahsuainya..

Ditengah-tengah pekerjaan mereka, anakku pergi agak jauh dari ayahnya, para pekerja tidak mengetahui bahawa ada dia disana, bangunan yang sengaja dirobohkan untuk diubahsuai itu jatuh menimpanya…

Anakku berteriak hingga suaranya tak terdengar lagi. Semua pekerja berhenti. Mereka terkejut! Mereka khuatir denvan apa yang berlaku!

Mereka mengangkat dinding yang menghimpit anakku itu dengan susah payah dan segera memanggil ambulans. Mereka tidak dapat mengangkat badan anakku. Ia remuk. Seperti kaca yang jatuh, pecah berkeping-keping…

Mereka membawanya dengan amat sukar dan segera memindahkannya untuk pertolongan lebih lanjut.. . Ketika ayahnya menghubungi saya untuk mengkhabarkan hal itu, seakan Allah menghadirkan kembali apa yang telah saya doakan untuknya dahulu ketika dia mash kecil…

Saya menangis hingga jatuh pengsan. Ketika sedar, saya berada di hospital.. Dan saya meminta untuk melawat anak saya…

Ketika melihatnya, ah! Andaikan aku tidak melihatnya dalam keadaan sebegitu… Saya melihatnya, seakan-akan Allah berkata “nih, ini doamu kan? Sudah saya kabulkan setelah sekian lama; doa orang tua itu mustajab, dan sekarang Aku akan mengambilnya…”

Ketika itu, jantung aaya seakan berhenti berdetik…

Anak saya menghembuskan nafas terakhirnya…

Sambil berteriak dan menangis saya berkata:

Andainya dia hidup lagi! Tidak mengapa jika dia hancurkan semua perabot rumah…

Asalkan saya tidak kehilangan dia…

Andaikan saja lidah saya ini terpotong dan tidak mendoakannya sebegitu!

Andaikan… Andaikan… Andaikan… Tetapi, andaikan kalimat ‘andaikan’ ini berguna.

Risalah kepada para ibu: jangan terburu-buru mendoakan anakmu ketika sedang marah…

Berlindunglah kepada Allah dari godaan syaitan,… Jika kamu ingin memukulnya, pukul saja, tapi jangan mendoakannya macam-macam, sehingga kalian akan menyesal seperti saya…

Saya menuliskan ini dengan airmata yang membanjir…

“”””””””””
Andaikan ruhku pun turut bersamamu, nak. Hingga saya dapat beristirahat dari kepedihan yang saya rasakan sepeninggalmu…

#FatehteamTeladan

Sertai Telegram Fatehteam Channel: PERCUMA!!!
Dengan Klik Link:
👇👇👇
https://telegram.me/teamfatehteam

%d bloggers like this: